GKRI GALILEA

Events & Jadwal Ibadah

06.12.09

Ibadah Raya Minggu Sore Jam 17.00

more

13.12.09

Ibadah Raya Minggu Sore Jam 17.00

more

20.12.09

Ibadah Raya Minggu Sore Jam 17.00

more

24.12.09

Ibadah Raya Minggu Sore Jam 17.00

more

27.12.09

Ibadah Raya Minggu Sore Jam 17.00

more

Artikel

 

KETIKA TUHAN BERKENAN

Tumbuh kembang serta sukses sebuah negara, dunia usaha,  sebuah organisasi, sebuah komunitas, bahkan gereja sekalipun, tak terjadi dengan sendirinya. Andil dari orang-orang yang terhimpun di dalamnya merupakan faktor utama. Mengapa? Karena dalam setiap proyek Tuhan, dalam bentuk atau bidang apa pun hal tersebut, Ia hanya bekerja dalam diri orang-orang  yang punya visi, hati, dan kemauan untuk berjuang.

 

Dari sederet nama tokoh-tokoh sejarah dalam Alkitab, Nehemia merupakan figur yang patut diacungi jempol Kehidupannya cukup menarik sehingga dalam Kitab Nehemia, sebagian besar mengulas tentang sosoknya. Melalui karyanya, tembok Yerusalem yang sudah luluh lantah kembali berdiri kokok. Bukan itu saja, ia pun sangat berjasa karena melakukan sebuah gebrakan yang membawa perubahan dalam bidang sosial dan kehidupan religius umat Israel di Yerusalem. Bagaimana Nehemia yang terikat kerja atau sedang mendedikasikan hidup pada Raja Persia-Arthasasta, bisa melakukan hal tersebut? Ada beberapa aspek dalam dirinya yang membuat Tuhan berkenan atasnya untuk melakukan perkara-perkara yang dasyat.

 

Hati Yang Mencintai
Nehemia terbilang bernasib mujur sebab saat saudara-saudaranya berada dalam pembuangan, ia justru menduduki posisi sebagai juru minum raja. Sebuah kedudukan yang sangat istimewa saat itu karena tidak sembarang orang yang bisa melalukan tugas ini. Dalam keadaan nyaman hidup di lingkungan istana, ia menerima berita tentang kondisi mengenaskan dari bangsanya. Umat Tuhan yang tadinya sudah kembali hidup benar dan berkomitmen sewaktu dirinya ke Yerusalem dan Ezra membacakan Hukum Taurat, rupanya kembali hidup menyeleweng.  Bahkan tembok Yerusalem sudah hancur.


Ketika kesuksesan karir membuat seseorang hanyut dalam kenikmatan sukses yang diraihnya, sibuk dengan urusannya sendiri, acuh tak acuh terhadap informasi yang didengarnya dan menjadi tidak peduli dengan keadaan sekeliling, bahkan mungkin kerabat dekat, tidak demikian Nehemia. Berita yang baru saja ia dengar benar-benar menyayat dan memilukan hatinya. Ini bukan semata-mata karena Yerusalem memiliki pertalian darah dengannya, tapi Nehemia menginginkan kesejahteraan mereka. Meski keadaan tersebut tercipta karena kedegilan hati orang-orang sebangsanya, Nehemia tidak telinga dan mata hatinya.


Hati yang mencintai saudara-saudara sebangsa membuat ia sangat berkabung. Doa dan puasa ia lakukan demi memohon belas kasih Tuhan atas mereka. Tak ada rasa malu bernegosiasi dengan Tuhan untuk kebaikan bangsanya, padahal bangsanya itu dalam keadaan cemar. Dengan cucuran air mata, hati yang remuk, Nehamia berjuang menggetarkan hati-Nya. Ia terus mengingatkan Tuhan terhadap janji yang pernah diucapkan-Nya mengenai umat-Nya. Bahkan ia juga meminta dibukakan jalan sehingga bisa melakukan apa yang ada dalam hatinya untuk bangsa itu. Tak ada kekesalan terhadap mereka kendati realita yang ada adalah akibat dari ulah mereka sendiri. Sebuah sikap hati yang tidak egois, tetapi peduli dan selalu mengedepankan kepentingan banyak orang, walau hal itu tidak menguntung dirinya yang sudah hidup terjamin.

 

Tidak Sia-siakan Kesempatan
       Sebuah tindakan cukup radikal yang menjadi awal pergerakan yang mengubah kehidupan penduduk Yerusalem telah ditempuh Nehemia. Dalam kesempatan berjumpa Raja Arthasasta saat menyuguhkan minuman, ia memanfaatkan peluang yang ada. Rasa cinta terhadap banyak jiwa telah menumbuhkan sebuah keberanian yang besar untuk menceritakan kegalauan hatinya, saat raja mendapati dirinya muram. Bayangkan saja bagaimana reaksi seorang pemimpin bila bawahan yang baru beberapa waktu lalu minta ijin mudik atau pulang kampung, datang melayaninya dengan mimik tidak menyenangkan. Resikonya pasti besar, namun  Nehemia tanggap melihat peluang yang Tuhan berikan. Dan ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Sebuah perencanaan berkaitan dengan keinginannya kembali ke Yerusalem sesuai visi yang Tuhan taruh dalam hidupnya, sudah dipersiapkan secara matang. Sehingga moment penting bertemu raja tidak terlewatkan begitu saja tanpa hasil. Benar saja, keberanian buat berterus terang berkata jujur disertai doa, telah membuat Nehemia berhikmat saat berkata-kata. Alhasil, dalam perbincangan dengan raja, setiap hal yang ia kemukankan mendapatkan solusi. Raja tidak sekadar menyetujui cuti dan kepulangannya, tapi lebih dari itu mendukung secara moril dan materi untuk kesuksesan mimpi besarnya membangun Yerusalem.


Ada banyak kesempatan yang Tuhan berikan kepada seseorang untuk menjalankan visinya. Namun yang menjadi dilema, tak semua orang tanggap akan hal ini. Bahkan sebuah kesalahan besar, sudah punya visi tetapi tak ada kemauan atau keberanian untuk berbagi visi dengan orang lain. Sementara untuk terwujudnya sebuah visi, cara Tuhan sangat unik dan tidak monoton. Tidak selamanya Ia berurusan langsung dengan pribadi seseorang. Tapi kadangkala ia menjadikan orang lain sebagai jembatan untuk berjalan dalam visi itu. Dengan kata lain, Tuhan memberi kita kesempatan bekerjasama dengan seseorang, atau menempatkan orang-orang di sekeliling kita untuk melengkapi kita karena kapasitas kita yang terbatas dan tidak mungkin berjuang seorang diri. Apalagi sebuah tugas yang besar dan bersentuhan dengan kepentingan orang banyak. Hikmat Tuhan akan membuat kita peka terhadap situasi sehingga tidak bertindak gegabah. Sebaliknya bertindak dengan pengertian yang benar sehingga setiap kesempatan yang Tuhan beri tak akan berlalu dengan percuma atau diisi dengan berbagai kekeliruan. Tanggap terhadap setiap kesempatan mutlak bagi kita!

 

Perperang Dengan Strategi
Sejatinya seorang pejuang yang hendak ’bertempur’ menggenapi visi dari Tuhan, mengenal betul medan yang menjadi sasaran dan memiliki perencanaan yang matang sebelum beraksi. Pun demikian dengan Nehemia. Ia bukan sosok pemimpin yang berperang tanpa perencanaan. Hal itu terbukti lewat beberapa langkah yang diupayahkannya sebelum bergerak. Sebelum ke Yerusalem, dirinya meminta restu dan perlindungan dari raja Arthasasta berkenaan dengan perjalanan yang akan ia tempuh. Bagaimana pun juga ia harus memperetimbangkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi sebab orang-orang yang tidak sepaham dengannya akan menjadi penghambat. Setibanya di Yerusalem Nehemia menyelidiki dengan seksama kondisi tempat tersebut, memperhitungkan waktu yang diperlukan waktu untuk membenahinya, serta orang-orang yang akan menjadi rekan kerjanya sehingga pelaksanaan proyek besar itu dapat berjalan lancar.


Sebuah visi akan berjalan terseok-seok jika tanpa perencanaan  dan dukungan dari orang lain. Sebagaimana yang firman Tuhan katakan, pertimbangan dan strategi yang tepat akan membuat sebuah perencanaan terlaksana (Amsal 20:18). Dan ini berarti sebuah rencana hanya akan menjadi impian belaka jika kita tidak tahu bagaimana cara membuat hal tersebut terealisasi atau menjadi kenyataan. Ibarat orangtua yang menginginkan anaknya menjadi Dokter, seorang akuntan, arsitek dan sebagainya. Bila tidak membuat planning mengenai pendidikan yang harus ditempuh anak-anaknya serta mempersiapkan semua dana yang dibutuhkan sejak dini, harapannya hanya akan menjadi isapan jempol saja.


Tim sukses pun tak kalah penting untuk dipikirkan. Melakukan pendekatan dengan orang-orang yang berkompeten, punya potensi luar biasa, merupakan strategi yang tidak boleh dipandang sebelah mata.  Inilah salah satu aspek keberhasilan Nehemia. Memiliki perencanaan, strategi dan rekan kerja yang sehati. Kerap terlintas dalam benak kita, semakin banyak tangan yang terlibat maka kemungkinan terjadi konflik dan kesalahan akan semakin besar. Ya, mungkin hal ini benar. Tetapi kalau sebuah pekerjaan atau pelayanan memang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mungkinkah sebuah target akan tercapai jika tenaga tidak memadai? Kalau ternyata kita telah melakukan sebuah kekeliruan atau menemui jalan buntu, bagaimana kita dapat mengetahuinya sementara tak ada rekan untuk bertukar pikiran dan memberi solusi terbaik?


Seorang yang dikenal dengan hikmat yang luar biasa dari Tuhan, yaitu  Salomo memberi pernyataan demikian, ”Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak” (Amsal 24:6). Bukankah nampak bahwa kita harus membangun relasi yang yang baik dan memiliki rekan yang solid untuk mencapai sebuah target dari Tuhan?

 

Berjiwa Motivator
       Dalam mengerjakan sebuah visi atau proyek butuh yang namanya kerjasama. Sebab sebagai manusia yang terbatas adanya, materi yang memadai tidak menjamin sebuah sukses akan teraih. Kehadiran orang-orang atau Sumber daya manusia (SDM) perlu diperhatikan. Sumber daya manusia ini pun dibutuhkan orang-orang yang bergairah, jujur, berdedikasi dan pantang menyerah. Tanpa orang-orang seperti ini mustahil berhasil.  Kalau pun berhasil, jatuh-bangun akan mewarnai langkah kita dan perlu waktu yang panjang.


Disinilah peran seorang pemimpin harus nampak. Tak dapat dipungkiri, figur pemimpin sangat memengaruhi kinerja dan hasil kerja semua orang yang terlibat di dalamnya. Karena itu seseorang yang memimpin sebuah proyek, baik yang bergelut dalam dunia sekuler maupun pelayanan gereja, harus memiliki jiwa motivator. Dan kepimpinan Nehemia pun tidak disangsikan lagi. Sikap yang ditunjukkan setiap kali hendak melakukan sesuatu, acap kali menggugah hati orang-orang yang membangun bersamanya. Dirinya bukan sosok ditaktor yang hanya bisa mendikte, menuding, dan memberi sangsi terhadap apa yang terjadi. Bukan itu yang ia lakukan. Dengan bijaksana ia membuka cakrawala berpikir orang-orang sebangsanya sehingga mereka mampu melihat keadaan yang ada, mencerna maksudnya, dan membakar semangat mereka dengan menanamkan keyakinan bahwa karena itu pekerjaan Tuhan maka Ia pasti berpihak pada mereka (Nehemia 2:17-20). Jadi orang-orang yang membangun bersamanya tiak merasa sedang diperintah atau sekadar melakukan sebuah perintah. Mereka membangun dengan pengertian dan tujuan yang jelas.


Kepiawaian Nehemia dalam memberi motivasi, telah membangkitkan semangat juang saudara-saudaranya untuk membangun. Tak heran lagi kalau beberapa kali seterunya Sanbalat dan Tobia memporak-porandakan rencananya dan menggagalkan pembangunan yang ada, usaha mereka selalu tidak membuahkan hasil. Demikianlah hendaknya sikap kita menyikapi setiap kesulitan. Kemarahan, menyalahkan orang lain, atau memberikan sangsi bukanlah solusi yang tepat untuk membangkitkan dan membakar semangat juang rekan-rekan kita. Justru sikap yang berbau intimidasi akan menimbulkan tekanan dan sangat berpotensi melunturkan semangat seseorang untuk melangkah maju. Pemimpin atau rekan yang mampu menjadikan dirinya penyemangat bagi orang lain, akan mencetak generasi dan orang-orang yang berjiwa pejuang, bermental baja dan berdedikasi.

 

Pantang Untuk Menyerah
Tanggap terhadap kesempatan tidaklah cukup untuk membuat seseorang dipakai Tuhan. Mental pejuang yang pantang menyerah termasuk aspek yang sangat diperhitungkan. Bagaimana pun juga jalan tidak selalu mulus dan tidak semua orang akan mendukung setiap pergerakan atau apapun yang hendak kita lakukan. Situasi ini pun terbentang di hadapan Nehemia. Jalan sudah terbuka dan ’jembatan’ menuju visi sudah Tuhan siapkan. Hanya saja sosok Sanbalat dan Tobia merupakan persoalan bagi mereka. Selain kedua orang ini tak berhenti melakukan penghinaan, mereka juga menghimpun kekuatan untuk menghancurkan Nehemia berserta orang-orang yang membangun bersamanya. Namun adanya komunikasi yang baik dengan semua orang yang mendukungnya, membuat umat Tuhan itu tetap bersepakat dan membuat komitmen untuk berjuang bersama.  tanpa pernah menyerah (Nehemia pasal4).


Tantangan merupakan salah satu hal yang bakal dijumpai siapa pun dalam sebuah perjuangan. Ini harus disadari oleh setiap orang yang akan bertarung. Dan tugas setiap orang yang memimpin sebuah pergerakan adalah menjaga jangan sampai rekan kerja atau tim yang ada mengalami degadrasi iman. Kalau itu terjadi dampaknya akan berimbas pada semangat juang. Setiap tantangan harus disikapi dengan keyakinan akan pertolongan Tuhan. Mengingat kembali pertolongan Tuhan dalam sepanjang perjalanan hidup kita dapat mengalirkan kekuatan juga membangkitkan iman sehingga tidak surut oleh keadaan yang ada.  Seorang pemimpin tidak hanya memberi komando, tetapi juga harus memimpin rekannya dalam iman dan tindakan. Tidak membiarkan masalah yang datang dihadapi dengan sebuah perlawanan, yang pada akhirnya berdampak dalam diri orang-orang dan pekerjaan yang dilaksanakan.


Para komandan mesti berpikir dan bersikap positif serta menularkan keyakinannya pada orang-orang yang terlibat bersama dalam sebuah pekerjaan. Pemimpin mesti bisa membawa keluar rekan-rekannya dari mentalitas budak, yang hanya terpaku pada diri sendiri dengan segala ketidakberdayaannya. Ketika tekanan dan rintangan datang hanya pasrah begitu saja. Tunjukan bahwa kita dapat mengendalikan situasi. Dengan demikian mental-mental yang mulai rapuh akan terbentuk kembali, sehingga menghasilkan pejuang yang antusias sampai mencapai garis finish.

 

Mengandalkan Iman dan hikmat Allah
Apabila menyimak perjuangan Nehemia dan rekan-rekannya, perjuangan mereka diwarnai dengan tantangan yang bertubi-tubi. Suatu kenyataan yang tak mungkin dihindari, di mana setiap rintangan yang ada sangat berpotensi untuk melemahkan iman dan membunuh karakter. Namun satu keteladanan telah diperlihatkan Nehemia. Ia bukanlah seorang yang emosianal dalam menanggapi persoalan yang ada. Sebaliknya rasa percaya diri terhadap Kemahakuasaan Tuhan, membuatnya selalu mengedepankan nama Tuhan setiap kali berhadapan dengan para lawan. Satu hal yang berulangkali ditegaskannya dan menjadi senjata pamungkasnya adalah, Allah sumber keberhasilan mereka (Nehemia 2:19).


Dalam menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi mengikis gairah dan semangat, kita perlu menyatakan iman kepada publik. Bukan sebaliknya menunjukan sikap perlawanan, atau terang-terangan melakukan perlawanan. Ketegasan Nehemia dalam menyatakan keyakinannya akan campur tangan Tuhan, meninggalkan sebuah keteladan pada rekan-rekan yang membangun bersamanya, sekaligus menjadi kekuatan bagi mereka. Andaikan mereka menemukan keraguan, ketakutan dan sikap temperamental dalam diri Nehemia, mungkinlah mereka bertahan?? Pastilah mereka akan menyerah!


Jika kita sedang dipersiapkan Tuhan untuk sebuah visi atau pekerjaan yang besar, milikilah keteguhan iman dalam setiap langkah dan segala sesuatu yang kita lakukan. Andalkan hikmat Tuhan dan jangan bersandar pada kekuatan sendiri, sebab keangkuhan dan keyakinan yang besar pada kemampuan diri sendiri akan membuat Tuhan tidak berperkara dalam hidup kita. Warnailah setiap perjuangan kita dengan senantiasa bertanya kepada Tuhan, sebab hal itulah yang membuat kita terhindar dari pelbagai kesalahan. Hadirkan Dia dalam setiap helaan nafas kita, karena Tuhanlah satu-satunya sumber hikmat dan kekuatan yang memampukan kita untuk berjuang sampai mencapai garis yang sudah ditentukan-Nya. Ketika Tuhan berkenan atas hidup seseorang, maka setiap visi atau mimpi besar pasti akan digenapi-Nya dalam hidup orang itu. q(lr)

 

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.Dan...
Segala perkara dapat  Kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita,

Karena...
Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa,
sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.

 

GKRI GALILEA
Last Update:28 November, 2009

Latest News


Jadwal Pelayan Bulan November 2009
Btn Click Here

Pena Gembala
Dialog yang terjadi antara iblis dan Allah dalam....
Btn Click Here

Galeri Foto HUT GKRI GALILEA
Btn Click Here

Aktivitas Sepekan
Btn Click Here


You can use this banner to put on your links page

(right click/save image as)


TERM OF USE
Takayuki

GKRI GALILEA