
Pena Gembala
Dialog yang terjadi antara iblis dan Allah dalam prolog Kitab Ayub bukanlah sebuah peristiwa yang dapat dianggap sepele, sebab tuduhan iblis bahwa Ayub mau taat dan setia kepada Allah hanya semata mata karena: “......Apa yang dikerjakannya telah Kau berkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah dinegeri itu” (Ayub 1:10), adalah merupakan serangan iblis terhadap karakter Allah. Dengan lantang iblis mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mau mengasihi dan menyembah kepada Allah dengan tulus, dan kalaupun ada orang yang mau taat kepada Allah, itu semata mata karena orang itu telah mendapatkan dan menikmati segala fasilitas dan kelimpahan dari Allah. Maka tanpa ragu iblis pun menantang Allah:”.....Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan Mu” (Ayub 1:11). Menjawab tantangan iblis, Allah pun benar benar mengizinkan segala yang dituduhkan iblis sebagai penopang iman Ayub itu disingkirkan. Catatan panjang tentang penderitaan dan kesakitan Ayub pun tersurat disepanjang 35 pasal Kibab Ayub. Layaknya seperti semua orang ketika dalam kondisi keterpurukan yang amat dalam, Ayub pun terhanyut dalam arus emosi, kadang kadang meraung raung, meledak ledak, meronta, dan jatuh kedalam rasa iba terhadap dirinya sendiri. Kadang kadang ia sepakat dengan sahabat sahabatnya yang menyalahkan nya sebagai penyebab dari penderitaan itu, tetapi terkadang pula ia dengan keras menolak anggapan itu. Kadang kadang pula dalam keputusasaannya yang sangat dalam, ia muncul dengan sebuah pernyataan penuh pengharapan. Dalam epilog Kitab Ayub keadaan Ayub dipulihkan bahkan sampai 2 kali lipat dari sebelumnya, tetapi ini bukanlah pesan klimaks dari kitab ini. Jauh dari pada itu didalam kitab Ayub tersirat sebuah garis tebal tentang sebuah makna teologis tentang “kasih yang tidak terkondisi”. Disinilah letak keindahan, keunikan dan kehebatan kitab Ayub, yaitu bahwa kasih dan kesetiaan kepada Allah tidak boleh kita gantungkan kepada kondisi apa yang Ia berikan kepada kita, baikkah atau burukkah. Sepanjang Alkitab seringkali Allah dianalogikan sebagai suami dan kita umatnya sebagai isteri, lalu jika kita yang adalah isteri hanya mau mengasihi dan melayani suami hanya karena fasilitas dan kelimpahan yang ia berikan, maka bukankah kita tidak lebih dari pada perempuan perempuan sundal (Hos 1:2). Amin.
Salam dan doa Pdt Hary Abraham
|
|
![]() |
![]() |
![]() |